Barack Obama Berhenti Merokok

Berhenti merokok memang bukan pekerjaan mudah, terutama bagi perokok yang sudah bertahun-tahun merokok. Mantan presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, tahu betul bagaimana sulitnya perjuangan untuk berhenti merokok.

Pria kulit hitam pertama yang menjadi presiden AS itu mengaku pertama kali mencoba berhenti merokok pada tahun 2008 saat akan mencalonkan diri sebagai presiden. Namun berdasarkan pengakuan Michelle, istrinya, Obama berhasil berhenti merokok total pada tahun 2011.

"Sebagai mantan perokok, saya pikir saya cukup oke. Meskipun sampai saat ini saya masih harus mengunyah permen karet nikotin," ungkap Obama, dikutip dari The Hill.

Sempat mengalami gejala putus nikotin pada 2009, Obama mengatakan dukungan keluargalah yang membuat ia bisa tetap berhenti merokok. Menurutnya, kecanduan merokok berawal dari keinginan untuk coba-coba yang muncul saat remaja.

"Harganya (permen karet nikotin) memang cukup mahal, namun saya mampu membelinya. Kepada generasi muda, saya menyarankan untuk tidak mencoba merokok daripada harus membeli permen karet nikotin seperti yang saya lakukan," tambahnya lagi.


Laporan kesehatan terakhirnya semasa masih menjadi presiden menyebut Obama masih dalam keadaan cukup sehat. Memang ia sempat mengalami masalah kolesterol tinggi, namun kini sudah kembali normal.

Selain permen karet nikotin, presiden Obama juga diketahui masih mengonsumsi obat untuk gangguan asam lambung yang dideritanya. Meski begitu, obat ini hanya dikonsumsi sesekali ketika penyakit menyerang.


Hasil pemeriksaan kesehatan presiden Obama menunjukkan adanya peningkatan kebugaran tubuh. Kadar kolesterolnya turun dari 213 menjadi 188 dan berat badannya juga turun dari semula 81 kg menjadi 79 kg. Jackson mengatakan hal ini berkat pola makan yang sehat dan olahraga teratur.

"Secara umum, kesehatan presiden dalam kondisi sempurna dan lebih baik dari sebelumnya. Ia juga masih menggunakan permen karet nikotin setelah berhenti merokok," tutur dokter pribadi Obama, Ronny Jackson, dikutip dari Reuters.

Subscribe to receive free email updates: